Kamis, 23 Mei 2013

Bleach 538. Standing On The Edge [Text Version]

Bleach 538. Standing On The Edge [Text Version]
....

Selesai sudah. Sudah cukup banyak waktu yang dia lalui untuk mendengar semua kebenaran yang selama ini dibelenggu oleh sang ayahnya. Sudah tak ada lagi fakta lain yang harus dia ungkapkan. Semuanya telah Ichigo ketahui, tentang kematian ibunya, tentang siapa dirinya, bahkan tentang darah sang raja yang juga mengalir dalam nadinya. 

Setelah mendengar semua kenyataan yang diungkapkan oleh ayahnya, pemuda berambut orange ini memutuskan untuk kembali ke tempat sang raja. Bukan, bukan Raja Quincy laiknya sang putra Ishida, Uryuu, yang kini mengapdikan diri padanya. Ichigo ini kembali ke tempat raja yang lain, Raja Roh, raja bagi para kaum Soul Society.

“Oooi Ichigo,” Teriak ayahnya –Isshin— setelah melihat Ichigo berjalan cukup jauh. “Tadi kau bilang kau mau berangkat pergi... Tapi bagaimana caranya kau pergi ke sana?”

Ichigo hanya menoleh, wajahnya memasang ekspresi tak mengerti. Dia juga baru sadar bagaimana cara pergi ke tempat itu, Reiokyuu, tanpa menggunakan pilar suci dan dentuman kembang api seperti sebelumnya. Namun, sebelum kepalanya selesai berpikir, sebelum mulutnya sempat berucap untuk membalas pertanyaan ayahnya, sebuah dentuman pelan muncul di atasnya. Segumpal asap pekat tiba-tiba muncul di sana, mengeluarkan sebuah perempuan yang pernah Ichigo lihat sebelumnya. Mera, begitulah dia memperkenalkan diri pada Ichigo dan Renji saat masih berada di tempat Nimaiya.

“Tepat waktu. Ayo balik!.” Ucap perempuan bertubuh kecil itu sebelum mendekap Ichigo dan kemudian kembali menghilang dari sana. Ichigo hanya terdiam seperti orang bodoh tanpa mengelurkan sepatah katamu. Dan kesadarannyapun menghilang, terlelap dalam ketidaksadarannya.

...

“Untuk membuka Choukaimon—Gerbang Super— yang mengirimmu ke sini, kami harus mengatur waktu keberangkatan dan pendaratannya. Tuanku berencana mengirimmu kembali cuma dalam semalam. Kalau tak ada yang berubah darimu selama semalam itu, berarti sia-sia menunggu lebih lama..” Suara perempuan itu –Mera—kembali terdengar di telinga Ichigo, terngiang di antara ketidaksadarannya. Matanya perlahan membuka di saat sang perempuan itu kembali berteriak padanya. Baru Ichigo sadari bila dirinya tak berada lagi di dunia manusia, kakinya tak lagi berdiri di jalanan beraspal dekat rumahnya. Tubuhnya terbaring di lantai gelap karena kurangnya pencahayaan yang masuk ke dalam ruangan. Tubuhnya juga berbeda berbeda sekarang. Kini dia berada dalam reitai yang lengkap dengan Shihakushou hitamnya. Dia kini kembali ke bentuk shinigami lagi sekarang. Entah, dimana kitai-nya sekarang berada. Namun, ingatannya sehari yang lalu masih belum hilang dari memori dalam kepalanya, dia tahu betul dimana kini dia berada. Iya, tempat dirinya berhadapan dengan roh-roh zanpakutou yang bernama Asauchi, di sanalah kini Ichigo berada.

“Benaaar sekali!.” Terdengar suara Nimaiya tiba-tiba. “Tampangmu bagusan sekarang. Coba lihat sejauh mana perkembanganmu, Ichigo-chan. Ayo Asauchi itu akan...”

Namun, ucapannya terhenti ketika melihat tingkah Ichigo yang tidak seperti biasanya. Pemuda keturunan Quincy yang telah kembali berdiri itu tak mengayunkan senjatanya –dia memang tak bersenjata—ataupun mengepalkan tangannya untuk melawan para Asauchi yang mengelilinginya. Kakinya lalu melangkah mendekat pada sosok hitam—Asauchi—yang berada di belakangnya, mengulurkan tangannya pada makhluk itu. Sang makhluk hitam itu menerima sapaannya, seolah dirinya memang terpilih untuknya. Perlahan, kulit asauchi itu mengelupas, dan nanya menyisakan tubuhnya yang berwarna putih, wajahnya terlihat seperti Ichigo, namun hanya sebuah topeng hollow yang membedakan keduanya. ” Kau yang kupilih.” Ucap Ichigo pelan seraya tangan mereka masih saling menggenggam.

“Mantap.. Bawa ke sini.” Ucap Nimaiya kemudian. “Akan kutempa spesial untukmu.”

...

Keadaan kembali ke Soul Society, tempat yang menjadi saksi bisu peperangan antara Shinigami dan Quincy beberapa waktu lalu. Keadaan sudah mulai membaik, gedung-gedung yang hancur sudah mulai dibangun kembali. Suasana sudah mulai terasa tenang seperti sebelumnya. Namun, mereka tak bisa tinggal diam begitu saja, Juubantai, terlihat sangat sibuk setelah berakhirnya perang, setelah pihak shinigami mengalami kekalahan, setelah para Quincy itu merebut sang Soutaichou dari hadapan mereka. Kini, tak ada lagi bagi mereka berdiam setelah semua itu. Semuanya mulai berlatih, mulai mempersiapkan diri mereka untuk peperangan selanjutnya. Iya, mereka mengerti bila peperangan besar akan segera terjadi tidak lama setelah ini.

“Huuh!” Teriak para shinigami yang masih semangat mengikuti sesi latihan di sebuah dojo Juubantai. Dengan serentak mereka mengayunkan pedang kayu yang tergenggam erat oleh tangannya.

“Ambil posisi yang benar! Kalian tak bisa menebas Quincy kalau seperti itu!!”.

“Oi....” Bisik salah satu shinigami tak mengindahkan perintah pelatihnya.

“Apaan? Jangan bikin masalah...”. Jawab rekannya singkat.

“Itu lho... soal Hitsugaya-taichou...”

“Kenapa memangnya? “

“Dia kehilangan bankai-nya.Entah bagaimana nasib Divisi 10.”

“Kalian berdua, jangan ngobrol!!”

“Siap!!”

Lalu pintu dojo itu berderak karena ada seseorang yang sengaja membuka. Terlihat sang taichou yang baru dibicarakan itu berdiri dibalik daun pintu.

“Ta... Hitsugaya-taichou!” Sontak para shinigami bersamaan, seolah kehadiran taichou mereka bukanlah suatu yang diharapkan.

“Taichou! Apakah ada yang bisa saya...” Tanya sang pelatih.

“Mohon bimbingannya. Bankai-ku dicuri. Artinya aku harus mengandalkan kemampuan berpedangku. Aku ingin belajar lagi dari awal.” Taichou berambut putih itu membungkukkan badannya, menghilangkan kehormatannya sebagai seorang taichou di hadapan para bawahannya. Namun, inilah satu-satunya cara baginya untuk bisa bertahan di peperangan selanjutnya. Kekuatan yang telah dia latih selama setahun, kini lenyap begitu saja dari genggamannya. “Mohon... bantuannya...”

“Setelah pertarungan dengan Aizen, aku sudah mengorbankan segalanya untuk membentuk bankai-ku... Hingga jadi bankai yang "sesungguhnya" Tapi sekarang bankai-ku dicuri. Tidak perlu mengenang yang sudah tidak ada. Tak ada waktu memimpikan sesuatu yang tak akan kembali dalam waktu dekat. Aku harus terus menatap ke depan... Terus... ke depan...”

....

Di tempat lain, terlihat Hisagi dan Kensei sedang membicarakan sesuatu.

“Kenapa... Anda membawa saya ke sini?” Tanya sang Fukutaichou.

“Shuuhei, tunjukkan bankai-mu.” Jawab Kensei tegas, seperti biasanya. Hisagi hanya terlihat tak mengerti kenapa sang Taichou tiba-tiba menyuruhnya melakukan itu. “Kita beruntung bankai-ku tak dicuri, tapi lain waktu, siapa yang tahu kita butuh lebih banyak orang yang bisa menggunakan bankai.”

Dan sebelum Hisagi bicara, seseorang datang diantara mereka. Sosok perempuan bertubuh mungil dengan kepala yang begitu mencolok, Kuna Mashiro. Seperti biasa, sangat wajahnya selalu terlihat riang kapanpun.

“Mashiro! Waktunya Hollow!” Perintah Kensei tiba-tiba.

Tanpa basa-basi mantan fukutaichou bawahan Kensei itu langsung mengiyakan permintaannya, “Siaaap!
Beeeerubaaaah~!”

“Dia berbahaya kalau sudah jadi hollow. Kalau tak mau pakai bankai kau akan mati.”

“Sebentar, Kuna! Muguruma-taichou! Saya tak bisa begitu saja...” Ucap Hisagi masih belum mengerti maksud taichounya. Namun terlambat, kepalan tangan Mahiro lebih dulu mendarat di perut Hisagi, membuat pemuda bertato itu berlutut di tanah menahan sakit.

“Aduh, berbekas tuh.” Ucap Mashiro sedikit mengejek. “Makanya, fukutaichou jangan berani sama super-fukutaichou!” Kali ini berucap seolah pangkatnya lebih tinggi dari Hisagi, dengan menunjukkan sebuah plat fuku palsu yang bertuliskan ‘Super Fukutaichou’.

“Tolol. Sudah kubilang, kan. Aku tidak ragu membunuhmu.” Ucap Kensei dengan nada tegas yang tidak berubah. “Aku bukan pengecut seperti Tousen.”

Hisagi terdiam. Tak dia sangka telinganya akan mendengar kalimat seperti itu tentang mantan Taichou. Dia geram, terlihat cukup marah ditengah ketidakberdayaannya. “Sebentar, Muguruma-taichou. Saya selalu menghormati anda dan menjadikan anda panutan. Tapi, anda tidak sepantasnya menghina Tousen-taichou!”

...

Di tempat lain, Iba Tetsuzaemon juga melakukan hal yang sama. Mantan pemegang kursi ke-empat divisi sebelas ini juga tak ingin membuang waktunya begitu saja. Latihan adalah jalan satu-satunya agar dirinya bisa membantu taichounya di peperangan nanti.

“999... 1000....” Ucapnya terengah-engah setelah menghantamkan batu yang seukuran tiga kali tubuhnya ke tanah. Matanya melirik ke sebuah lubang di belakangnya. Terlihat sebuah gua di sana. “Komamura-taichou belum keluar juga dari goa mencurigakan itu...”

Di dalamnya, sang Komamura Taichou terus melangkahkan kakinya ke dalam, menghiraukan kegelapan yang menghampar di depannya. Langkah kakinya terdengar begitu nyaring diantara kesunyian.

“Siapa di situ?” Ucap seseorang menyapa, agak kasar bila di dengar dari cara bicaranya, seakan dia tak ingin seorangpun mengganggu wilayahnya ini. Suaranya terdengar begitu nyaring dan terngiang karena gema yang terjadi. Komamura tak menghiraukannya, kakinya terus melangkah maju, seolah dirinya sudah tahu bila dia akan mendapatkan sambutan seperti ini.

“Sudah lama sekali, Ooji-sama.” Ucap sang taichou yang mempunyai Reitai yang berbeda dengan konpaku yang lain itu.Kini, di depannya berbaring makhluk yang luar biasa besar, tubuhnya terlihat sangat besar, jauh lebih besar dari Komamura sendiri, taichou itu hanyalah seukuran satu kuku tajam untuk sang makhluk berbentuk anjing itu. Telinga dan mata kanannya terluka, pun begiitu, matanya masih bisa menatap dalam Komamura.

“Sajin? Berani juga kau menunjukkan wajah di depanku lagi...” Ucapannya masih terdengar cukup kasar.

__________ Trans : Xaliber [English : Mangapanda]
___________ Deskrip : Angoez.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar